This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 31 Juli 2013

Letnal Satu Udara Syamsyudin Noor



Tidak banyak warga Kalimantan Selatan tahu tentang pejuang yang satu ini. Walaupun namanya kemudian menjadi nama bandar udara terbesar di Kalimantan, namun kisah hidupnya masih tertutup oleh minimnya catatan sejarah lokal Kalimantan Selatan. Ini dampak yang terasa akibat dominannya pencatatan sejarah di daerah Jawa.
Letnan Udara Moehammad Sjamsoeddin Noor, lahir di Alabio (Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan), tanggal 5 November 1924. Ayahnya adalah seorang ulama dan aktif di pergerakan nasional yaitu H. Abdul Gaffar Noor, sedangkan ibunya Hj. Putri Ratna Wilis juga aktif di pergerakan berbasis keagaamaan.
Aktivitas sang ayah yang aktif di pergerakan, membawa keluarga ini hijrah ke Batavia, sehingga Moehammad Sjamsoeddin Noor menghabiskan masa pendidikannya di Batavia. Pada tahun 1939 Moehammad Sjamsoeddin Noor lulus dari HIS Batavia, kemudian dilanjutkan ke MULO Bogor lulus tahun 1942. Kemudian dilanjutkan lagi AMS Jogjakarta lulus tahun 1945.
Pada tahun 1945, seluruh pemuda Indonesia bersiap untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja di proklamasikan. Pemuda Moehammad Sjamsoeddin Noor pun terpanggil untuk membela negara dengan memasuki Akademi Militer Jogjakarta. Setahun di akademi, diteruskan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang. Negara kembali menugaskan Moehammad Sjamsoeddin Noor untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Penerbang di India dan Burma. Selama tiga tahun pendidikan ini beliau jalani dengan kedisiplinan, sehingga setelah lulus beliau dipercaya untuk menerbangkan pesawat angkut dan pesawat tempur AURI. Bergabungnya Moehammad Sjamsoeddin Noor ke barisan pilot pesawat tempur AURI menambah kekuatan militer Indonesia kala itu, dikarenakan masih langkanya tenaga pilot pesawat tempur.
Pada hari Minggu, tanggal 26 November 1950, Moehammad Sjamsoedin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota 446 milik AURI dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seluruh awak pesawat termasuk M. Sjamsoedddin Noor gugur sebagai pahlawan.
Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa. M. Sjamsudin Noor wafat di usia muda 26 tahun. Sebagai jasanya beliau dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways
Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970, Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. 
Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsoedin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsoedin Noor menggantikan Landasan Udara Oelin pemberian nama dari Belanda dan Jepang. 

Landasan Udara Oelin tahun 1936, yang mendarat adalah maskapai KLM Netherland.


Bandar Udara Syamsudin Noor sekarang.

sumber http://bumibanjar.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Semoga Bermamfaat

Kehidupan sungai di Banjarmasin Tempo Dulu

Beberapa foto tempo dulu Banjarmasin dengan urat nadinya kehidupan di sungai.
Anak-anak mandi di sungai.



Aktivitas mandi di sungai.

Sungai kecil di Banjarmasin, sekarang sungai seperti ini tinggal cerita. Tumbuhnya bangunan dan perluasan pemukiman membuat sungai ini hilang tertutup dan buntu.

Toko di pinggir sungai, menjual segala peralatan dapur yang terbuat dari tanah (gerabah).

Lanting atau rakit terapung (tempat mandi dll) di sungai

Tanggui (topi lebar dari daun nipah) dijual di pinggir sungai.

Sungai Kuin dengan aktivitas sehari-hari.

Pelabuhan tempat menambatkan jukung (perahu) angkutan.

Sungai juga digunakan untuk menjemur ikan asin.

Rakit yang sedang dialirkan ke hilir yang berasal dari hulu sungai Barito.

Sebuah rumah Banjar yang "reot" di pinggir sungai.

Barisan lanting plus jamban.


sumber http://bumibanjar.blogspot.com/2012/04/kehidupan-sungai-banjarmasin-tempo-dulu.html


Semoga Bermamfaat

Jambatan yang ada di Kota Banjarmasin,tempo doloe

 Banjarmasin adalah kota seribu sungai, seribu sampan bahkan seribu jembatan. Namun bagaimanakah wajah jembatan di Banjarmasin tempo dulu.



Jembatan Sudimampir tahun 1956









Seorang warga dengan jukung kecil mengayuh di tepi Sungai Martapura.
 





Jembatan Coen (Jembatan Dewi) dengan jungkitan di bagian tengah.




Kapal api dengan bendera tri warna sedang melewati Jembatan Coen (Jembatan Dewi).

Jembatan kecil di Sungai Kuin, jukung tambangan sedang lewat.

Semoga Bermamfaat

Minggu, 17 Februari 2013

Misteri Keberadaan Kapal Selam Indonesia



Kalau dipikir-pikir,  ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia.  Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus menjaga wilayah laut  Indonesia yang demikian luas. Bayangkan saja, 2/3 dari wilayah Indonesia adalah lautan.

KRI Cakra 401
KRI Cakra 401 (img : jakartagreater.com)

Hal itu kontras dengan pengadaan alutsista untuk matra darat,  udara maupun permukaan laut.  Lihat saja, alutsista untuk matra permukaan laut  terus ditambah dengan: 4 Korvet Sigma, 3 Nakhoda Ragam Class, 1 PKR Sigma 10514, PKR Trimaran KRI Klewang, 4 Heavy Landing Platform Dock KRI Makassar Class,  KCR-40 dan kapal-kapal patroli lainnya, BMP-3, Ruda C-705 dan lain-lain.

Matra udara ada penambahan: 6 Sukhoi SU30MK2, 16 Super Tucano, 34 pesawat F-16 Block 32++, 9 C-295, 4 Hecules, , Bell 412, CN 235,  Rudal anti udara dan lain-lain.


Sementara untuk matra darat ada penambahan: 100 MBT Leopard Revo, 50 IFV Marder, MLRS Astros II, ATGM, Meriam Caessar 155mm, Rantis Sherpa, Panser Anoa, 12 Helikopter Fennec,  Rudal anti udara Startreak dan lain sebagainya.

Pengembangan kekuatan bawah laut yang  terkesan ketinggalan, terseok-seok, hanya dijaga  dua kapal selam tua. Apakah keputusan itu masuk akal  ?.

Kapal Selam Changbogo

Memang ada rencana pembuatan 3 kapal selam Changbogo dari Korea Selatan. Namun pengadaan kapal selam ini masih menuai kendala, terkait transfer of technology. Korea Selatan meminta dana yang cukup besar untuk ToT. Bukan itu saja, Korea Selatan pun, mengaku tidak mungkin memenuhi syarat yang diajukan Indonesia untuk pengadaan 3 kapal selam Changbogo.  Artinya proyek kapal selam Changbogo ini belum jelas.


Kapal Selam Changbogo Korea Selatan
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (img : jakartagreater.com)

Dengan demikian, banyak  lubang besar di bawah laut Indonesia yang menjadi titik lemah negeri ini, sekaligus memberikan jalan masuk bagi kapal selam asing. Kondisi ini menempatkan kapal-kapal permukaan TNI AL dalam posisi berbahaya dan menjadi sasaran empuk.  Padahal kita tahu, kapal selam adalah salah satu deteren dalam alutsista militer, karena keberadaannya susah dilacak.

Bahkan negara-negara besar seperti AS, Rusia, Inggris, Perancis dan China terus memodernisasi armada kapal selam mereka.

Dengan kondisi di atas, apakah tidak aneh Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam tua, sebagai pertahanan bawah laut ?. Tentu Aneh.



Kapal Selam Tetangga

Sekarang mari kita bandingkan dengan kapal selam negara tetangga, agar kalkulasi yang kita dapatkan lebih cermat.

Negara mini seperti Singapura,  memiliki 6 kapal selam modern. Namun mereka terus memperkuat armada bawah laut  dengan memesan 4 kapal selam Scorpene class SSKs dari DCNS Perancis. Sebentar lagi Singapura akan memiliki 10 kapal selam yang siap tempur dan menggentarkan.

Bahkan Vietnam yang ekonominya masih di bawah Indonesia sedang mendatangkan 6 kapal selam  Improved Kilo (Kilo-636 KMV).  Kontrak pembelian kapal selam itu dilakukan Vietnam ke Rusia pada tahun 2010, dan akan datang satu kapal selam, setiap tahunnya.


Kapal Selam Scorpene
Kapal Selam Scorpene (img : jakartagreater.com)

Adapun Malaysia memiliki dua kapal selam modern Scorpene yang dikerjakan  Galangan Kapal Perancis DCNS bersama rekannya  Navantia Spanyol.  Sebelum menerima kapal selam itu, 150 prajurit Angkatan Laut Malaysia dilatih mengenal dan mengoperasikan kapal selam Agosta Class, yang telah dipensiunkan dari Angkatan Laut Perancis.   Malaysia sedang mempertimbangkan penambahan jumlah kapal selam, setelah Angkatan laut mereka terbiasa dengan 2 kapal selam Scorpene yang dibeli dari Perancis.

Malaysia memang baru memiliki 2 kapal selam, namun jangan salah kapal selam mereka sudah modern. Selain itu luas laut yang harus dijaga kapal selam Malaysia, jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.

Negara tetangga di Selatan, Australia memiliki 6 kapal selam Collin Class yang dibangun bertahap sejak tahun 1996.  Kapal selam ini dibuat oleh Australian Submarine Corporation bekerjasama dengan Galangan kapal Kockums, Swedia- Jerman.

Australia sendiri telah mencanangkan penggantian 6 kapal selam mereka sejak tahun 2007, dengan nama Project SEA 100. Kapal selam Collins akan digantikan oleh 12 kapal selam yang lebih modern.


Kapal Selam Collin Class Australia
Kapal Selam Collin Class Australia (img : jakartagreater.com)

Dengan konstelasi seperti itu, armada kapal selam Indonesia paling kecil secara kualitas-kuantitas dibandingkan negara-negara di sekitarnya.

Jumlah kapal selam Indonesia yang hanya dua unit, memang cukup diragukan oleh berbagai pengamat militer internasional. Alasannya, secara hitung-hitungan militer, jumlah itu sangat minim. Keraguan lain disebabkan, hingga saat ini pihak  Indonesia maupun Rusia belum pernah terdengar membatalkan pembelian 2 kapal selam Kilo Classa. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyetujui kredit ekspor untuk pengadaan kapal selam itu sebesar 700 juta USD.


Presiden SBY melihat model Kilo Class
Presiden SBY melihat model Kilo Class (img : jakartagreater.com)

Bahkan sebagian pengamat militer negara asing mempercayai Indonesia memiliki 4 hingga 6 kapal selam Kilo Class.  Kalaulah dugaan itu betul adanya, beruntunglah Indonesia.  Namun jika dugaan itu tidak benar dan Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam tua, tentu kebijakan itu terasa aneh. Yang membuat penasaran adalah, mengapa TNI AL tampaknya tenang-tenang saja, walau hanya memiliki dua kapal selam gaek, sementara armada permukaan laut terus digenjot jumlah dan kualitasnya


Penampakan Kapal Selam Kilo Class Indonesia
Penampakan Kapal Selam Kilo Class Indonesia dalam Sebuah Kalender 
(Img : plus.google.com / Guntur Sasongko)


Semoga Bermamfaat

Rusia Berharap Indonesia Membeli Jet Tempur Sukhoi Su-35



Rusia mengharapkan Indonesia kembali melirik pesawat tempur sukhoi Su-35, pernyataan ini diungkapkan Wakil Direktur "Rosoboronexport" Victor Kumardin kepada vietnamese.ruvr.ru bulan November lalu.

Pesawat Tempur Multirole Sukhoi SU-35 BM
Pesawat Tempur Multirole Sukhoi SU-35 BM
foto : defence.pk
 

"Kita tahu bahwa Angkatan Udara Indonesia mengadakan latihan bersama dengan Angkatan Udara Australia, di mana Su-30 menunjukkan kinerja yang sangat baik. Artinya, kita berani berasumsi bahwa Indonesia mungkin tertarik pada Su-35, yang kami tawarkan, "kata Komardin.


Dia menekankan bahwa Kerjasama militer Rusia Indonesia telah terjalin cukup baik dan terus meningkat, "Hubungan ekonomi yang kuat dan hubungan perdagangan yang menguntungkan kedua negara. Kami telah menjual beberapa peralatan militer untuk Indonesia seperti kendaraan lapis baja, "tambah Victor Komardin.



Semoga Bermamfaat

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites