Minggu, 17 Februari 2013

Mantan Ajudan Bung Karno, Putu Sugianitri Buka Rahasia Soal Perlakuan Negara kepada Bung Karno



Selama Soeharto berkuasa sekitar 32 tahun, gerakan anti Soekarno terus digelorakan. Buku-buku berbau revolusi dankekirian dibredel dan ditarik dari pasaran. Namun, kondisi itu terbalik setelah Pak Harto lengser, Mei 1998. Bagaimana reaksi Sugianitri saat itu?
LENGSERNYA Presiden diikuti berbagai hujatan dan cemoohan. Begitulah yang sering terjadi di negeri ini. Hal itu pula yang menyertai Soekarno saat turun tahta. Bahkan, dia mendapat hujatan sangat keji dari lawan politiknya. “Beliau (Soekarno) setiap bangun pagi selalu membaca koran yang terbit di Jakarta saat itu. Beliau saat itu membaca dengan jelas hujatan maupun cacian yang ditulis koran,” ujar Putu Sugianitri, mantan ajudan Bung Karno.
Bagaimana ekspresinya? Menurut perempuan yang biasadisapa Nitri, ini saat itu Soekarno lebih banyak tersenyum bila ada berita bernada menghujat. Malah sering kali Soekarno menjawabnya dengan canda. Semisal ketika foto dirinya membelakangi Bung Karno dipajang menjadi headline (berita utama) di salah satu koran terkemuka di Jakarta. “Kayaknya fotografernya naksir kamu Tri,” canda Bung Karno kepada Nitri. Dia yang waktu itumenahan amarah, hanya bisa tersenyum. Maklum saja, judul foto yang dipajang cukup serem. Dibilang kalau dirinya lonte-nya Soekarno.
Sikap Bung Karno yang terkadang cuek itu kerap membuatnya sering bertanya. Pasalnya hujatan dan cacian itu sudah sangat kasar. Sebagai bangsa beradab, Nitri ingin Bung Karno menghentikan cara-cara seperti itu. “Tapi, Bung Karno malah meledek saya, tahu apa katanya saya tentang politik,” lontarnya. Apa alasannya? Persisnya Nitri mengaku tak tahu. Namun, sebelum ajal menjemput Bung Karno sempat membisikinya. “ Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang, ” jelas Nitri mengutip kata-kata terakhir Bung Karno sebelum meninggal.
Lantas, seperti apa sikapnya terhadap Soeharto yang kini mengalami nasib sama seperti Bung Karno? Menurut Nitri, sebaiknya pemerintah Indonesia punya prinsip tegas. Bagaimana pun Soeharto adalah mantan Presiden yang pernah mencatatkan keberhasilan selama memimpinIndonesia. Kalau pun meninggal, dia menyarankan ada upacara kenegaraan mengenang jasa-jasanya. Kendati perlakuan seperti itu tidak pernah diberikan kepada Bung Karno. “ Bapak meninggal dalam kondisi tidak punya apa-apa. Tapi, saya lihat waktu itu keluarga besar dalam kondisi bahagia, ” ucapnya.
Menyangkut pengampunan, sebagai sesama manusia, menurut Nitri, wajib hukumnya memaafkan. Tapi, masalah hukum dan kerugian negara yang ditimbulkan Soeharto selama memimpin Indonesia, haruslah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.Dia ingin Indonesia tidak terjebak dalam paradigma sempit. Hanya atas nama kemanusian lantas mematikan arti kemanusian itu sendiri. “Saya setuju proses hukum Soeharto dilanjutkan. Menurut saya itu lebih bermartabat,” tandasnya.
Yang menarik, menurut Nitri, di zaman Orde Lama Presiden hampir tidak melakukan korupsi sehingga Bung Karno wafat tidak meninggalkan warisan banyak, kecuali meninggalkan banyak istri. “Hitung saja hartanya kalau sekiranya ada. Toh, Bung Karno tak punya apa-apa, selain istrinya yang banyak. Tapi, soal punya banyak istri, itu kan urusan pribadi,” ujarnya.
Sebagai bukti, Nitri mengaku pernah melihat Bung Karno minta duit ke Frans Seda, mantan Menteri Keuangan era Soeharto awal 70-an. Frans Seda kemudian memberikan Bung Karno Rp 5.000. Menariknya, kendati tidak punya duit, uang itu dikembalikan lagi ke Frans. “Dipakai nggak, dibeliin apa-apa juga nggak. Justru gaji saya dipakai bareng-bareng keluarga Bung Karno,” imbuhnya.
Ditanya apakah dirinya tidak takut mengungkap plus minus Bung Karno dan Pak Harto, Nitrihanya menggeleng. Justru dia mengaku sudah menghubungi Guntur Soekarnoputra sebelum diwawancara wartawan koran ini. “Waktu saya diwawancarai wartawan Tempo maupun Kompas, saya juga ngomong apa adanya ke Mas Guntur. Dan,tidak ada masalah. Saya hanya ingin meluruskan sejarah,” pungkasnya.

 — bersamaAhmadamh Hamzah, Sakri Laoli, Ashabul Kahfi, dan 44 lainnya.


Semoga Bermamfaat

1 komentar:

http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/demokrat-beri-sinyal-majukan-ahy-jadi.html
http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/menlu-ri-desak-semua-negara-akui.html
http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/china-dukung-yerusalem-timur-sebagai.html

Tunggu Apa Lagi Guyss..
Let's Join With Us At vipkiukiu .net ^^
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami :
- BBM : D8809B07 / 2B8EC0D2
- WHATSAPP : +62813-2938-6562
- LINE : DOMINO1945.COM


Posting Komentar

Untuk Kemajuan dan Keterbaruannya Page ini,Mohon Tinggalkan "Komentar".
Perhatian :Jangan meninggalkan pesan atau komentar dengan isi tidak lazim dan kurang patut untuk di baca....

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites